Pages

Wednesday, April 8, 2015

30 WNI jadi budak kapal di Antartika dievakuasi ke Afrika

30 Warga Negara Indonesia diduga menjadi budak di kapal ikan asing, telah dievakuasi oleh kapal milik Organisasi Sea Sheperd. Awak kapal 'Thunder' yang melaut di wilayah Antartika itu kini tiba di Republik Sao Tome di Afrika Tengah.


Berdasarkan laporan terakhir, otoritas Sao Tome telah menerima 30 ABK tersebut. Angkatan Laut, petugas investigasi kriminal internal kepoloisian, dan menteri dalam negeri Sao Tome telah bertemu di Pelabuhan Ana Chaves terkait nasib empat puluh orang tersebut.


Selain WNI, ada 10 nelayan lainnya ikut dievakuasi. Mereka adalah warga negara Chile, Spanyol, dan Portugal, seperti dilansir Telanon, Rabu (8/4).


Pemilik kapal diduga kuat adalah buronan Interpol, lantaran memaksa nelayannya bekerja bagai budak.


Kapal milik Sea Sheperd tak sengaja bertemu para WNI nahas itu. Kapal mereka terjebak badai. Namun sebelumnya, Sea Sheperd sudah mendengar informasi bahwa ada beberapa kapal asing yang secara ilegal mencuri ikan di perairan Antartika.



Hingga sekarang, WNI korban perbudakan itu belum diperbolehkan bertemu dengan pihak media. Posisi mereka tersebar di beberapa hotel berbeda di wilayah kepulauan Sao Tome.


Kapal Thunder merupakan salah satu kapal yang dicari oleh Interpol lantaran kasus pencurian ikan langka. Kapal ini tenggelam 19 mil laut Sao Tome, Afrika.


Sea Sheperd adalah organisasi yang memiliki visi untuk melindungi satwa-satwa laut dari kepunahan termasuk di Antartika. Bukan sekali ini ada kasus kapal mempekerjakan WNI tanpa dokumen.


Sebelumnya, Kapal Kunlun ditahan di Phuket Thailand pada 17 Maret 2015. Saat ditahan, diketahui ada 36 ABK. 31 Di antaranya berkewarganegaraan Indonesia. 4 ABK berasal dari Peru, dan 1 ABK dari Spanyol. Kondisi mereka sangat menyedihkan.


Sementara Sea Sheperd berhasil menghentikan kapal Viking pada tanggal 30 Maret 2015. Kapal itu ditahan di Kuala Lumpur, Malaysia. Dari total 18 ABK, 15 berasal dari Indonesia, 1 dari Chile, dan 2 ABK dari Peru. Kondisi para pekerja itu sangat menyedihkan.


Read More http://ift.tt/1DJ3v4H

No comments:

Post a Comment