Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku kewalahan mengatasi maraknya prostitusi di ibu kota. Untuk itu, dia berwacana membangun satu kawasan khusus menampung prostitusi.
Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Musni Umar menilai, langkah yang diambil Basuki atau akrab disapa Ahok keliru. Karena permasalahan utama bukan lokasi prostitusi.
Musni mengungkapkan, permasalahan utama prostitusi adalah pendidikan. Karena seseorang tidak mungkin ingin menjadi 'Kupu-Kupu Malam'. Tidak memiliki pendidikan menyebabkan seseorang sulit mencari pekerjaan.
"Gak ada pendidikan mereka tidak bisa bekerja di sektor formal dan informal. Pemerintah tidak menyediakan seperti sektor perdagangan dan pendidikan informal, ini masalahnya," ungkapnya saat dihubungi merdeka.com, Senin (20/4).
Permasalahan pekerjaan mungkin tidak menjadi kendala utama. Tanpa ada pemasukan maka perut tidak dapat terisi, dan ini menjadi awal petaka. Musni menjelaskan, saat kondisi tersudut itulah kondisi lingkungan menjadi pendorong selanjutnya.
"Karena tidak punya kemampuan pendidikan, akhirnya mereka hanya bisa menjual diri. Sedangkan lingkungan ini sangat mempengaruhi lingkungan mereka, ya sudah," ujarnya.
Sedangkan, langkah untuk membangun lokasi prostitusi hanya akan menyebabkan masalah baru. Karena rakyat akan membangun mosi tidak percaya dengan pemerintah, dan ini dapat berdampak pada pembangunan.
"Kalau mendapatkan protes dari masyarakat, akhirnya partisipasi yang seharusnya mendukung pembangunan maka bisa jadi terkendala pembangunan," tegasnya.
Musni menyarankan, Pemprov DKI Jakarta untuk memberikan peluang kepada mereka yang terjerumus ke jalur sesat. Caranya dengan memberikan pendidikan dan modal untuk memulai hidup baru.
"Solusinya adalah mengembalikan mereka ke dunia yang benar?. Kemudian pemerintah memberikan mereka solusi seperti modal, usaha, pelatihan dan bimbingan," tutupnya.
Ahok menganggap prostitusi itu mustahil diberantas selama masih ada manusia. Dirinya bahkan mengibaratkan bak manusia dan kotorannya. Jika masih ada manusia, maka kotoran manusianya juga tidak akan pernah hilang dari bumi yang ditinggalinya.
"Kamu mau nggak kotorannya di mana-mana? Selama ada kotoran, walaupun tempatnya yang bersih namanya tetap taik toh," kata Ahok di Balai Kota DKI, Senin (20/4).
Ahok sendiri mengaku pernah mengusulkan membuka wilayah lokalisasi di DKI Jakarta. Namun ternyata usulnya itu tak urung memanen berbagai penolakan dari berbagai kalangan.
Merasa inovasinya tak ditanggapi baik oleh publik, maka mantan bupati Belitung Timur itu hanya bisa mengimbau wali kota dan perangkat camat serta lurahnya, untuk mengawasi rumah-rumah indekos di wilayah pemerintahannya masing-masing.
"Ibarat pelacuran itu kayak sampah masyarakat, selama ada masyarakat pasti produksi sampah, nah sampah itu tapi jangan di mana-mana dong harus dirapikan," ujar Ahok.
"Apalagi saat ini bisnis prostitusi merambah ke dunia online sehingga pengawasan akan lebih sulit dilakukan. Online lebih pusing lagi toh. Semua kos-kosan mesti diperiksa. Dia (wali kota) harus lebih tahu dari pada kita," pungkasnya.
Baca juga:
TKD dinamis mudah dipantau, Ahok ingatkan PNS tak main curang
4 Keluhan Pemprov DKI setelah APBD 2015 dipangkas Kemendagri
Ahok: Prostitusi itu seperti manusia dan kotorannya sendiri
Ahok tak segan usir penghuni rusun yang tak sesuai nama pemilik unit
APBD dikurangi Kemendagri, DKI pangkas alokasi pengadaan tanah
No comments:
Post a Comment