Pages

Saturday, April 18, 2015

Orang tua korban bom Boston minta pelaku tak dihukum mati

Bill dan Denise Richard yang kehilangan putra mereka, Martin (8 tahun), setelah bom meledak di ajang lomba maraton Boston pada 2013 memaafkan pelaku. Mereka setuju pelaku, Dzokhar Tsarnaev, dihukum tapi tidak dengan hukuman mati.


Dalam pernyataan tertulis yang dimuat Harian Boston Globe, Mereka minta Dzokhar cukup dipenjara seumur hidup. "Jika hukuman mati dilakukan, niscaya itu akan memperpanjang kenangan buruk tentang hari paling menyakitkan dalam hidup kami," tulis mereka dalam artikel yang dilansir hari ini, Sabtu (18/4).


Ketika bom panci itu meledak dekat garis finish pada 15 April 2013, Martin Richard sedang berdiri di pinggir jalan. Martin tewas seketika, bersama tiga orang lainnya. Puluhan lainnya cedera parah, termasuk kehilangan kakinya akibat ledakan tersebut.


Denise, sang ibu yang juga ada di TKP, sempat tak sadarkan diri. Anak keluarga Richard yang lainnya, Jane (6 tahun), satu kakinya terpaksa diamputasi.


Bill dan Denise menyatakan hukuman penjara sudah cukup untuk semua kesalahan Dzokhar dan saudaranya, Tamerlan Tsarnaev yang tewas saat dikejar polisi dua hari setelah insiden tersebut.


Dua bersaudara imigran Chechnya yang tiba di AS pada 2003 ini mengaku tidak tersangkut jaringan teror manapun, namun sangat bersemangat untuk jihad.


"Cukup bagi kami bila pelaku tidak lagi disorot media. Saat itulah kami bisa bangkit, melanjutkan hidup dengan wajar," tulis Bill dan Denise.


"Kami berpendapat akan lebih baik jika pelaku seumur hidup dipenjara, tanpa peluang untuk bebas dan mengajukan banding."


Pada sidang 9 April lalu, Dzhokhar Tsarnaev dinyatakan bersalah pada peristiwa pemboman saat Boston yang menewaskan tiga orang dan melukai 264 lainnya. Dia terbukti bersalah atas 30 dakwaan. Dengan demikian, dia bisa dijerat dengan hukuman maksimal. Boston sampai sekarang masih menerapkan hukuman mati, dengan cara suntik racun.


Read More http://ift.tt/1CYRZLr

No comments:

Post a Comment