Pemerintah Australia kemarin (1/3) mengumumkan pembuatan sistem radar untuk melacak penerbangan di kawasan. Teknologi ini akan dikembangakan bersama Indonesia dan Malaysia, buat menghindari terulang insiden hilangnya Malaysia Airlines MH370. Proses pencarian pesawat jatuh seperti AirAsia QZ8501 pun diklaim bisa lebih cepat.
Cara kerjanya, radar akan intensif memantau pesawat yang terbang di atas lautan setiap 15 menit. Lebih cepat dibanding radar lama yang memantau posisi tiap 30 hingga 40 menit.
"Ini teknologi pertama di dunia, akan meningkatkan kemampuan pengamatan saat terjadi situasi abnormal terhadap pesawat," kata Wakil Perdana Menteri Australia Warren Truss seperti dilansir Channel News Asia, Senin (2/3).
Ketiga negara membicarakan kerja sama ini untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan di kawasan. Industri di Asia Tenggara dan Pasifik terguncang setelah beberapa kali insiden.
Paling parah adalah hilangnya Malaysia Airlines MH370 rute Kuala Lumpur-Beijing pada Maret tahun lalu. Sebanyak 239 penumpang, termasuk kru, sampai sekarang belum ditemukan. Para ahli menyimpulkan, penerbangan di atas lautan harus diawasi lebih detail. Termasuk bila ada penyimpangan rute, gangguan mesin, atau sebab-sebab lain.
Truss mengatakan uji coba radar pemantau baru ini akan dilakukan oleh Lembaga aviasi ASDC di Brisbane. Nantinya, teknologi tersebut ikut dipakai mengawasi penerbangan di Indonesia dan Malaysia.
"Ini adalah suatu terobosan saya kira. Karena pengawasan pesawat di atas area lautan akan lebih efektif," kata Truss.
Teknologi yang dipakai ini sebetulnya tidak benar-benar baru. Pesawat buatan Boeing, misalnya seri 380, 777, atau 330 sudah menggunakan deteksi radar serupa.
Read More http://ift.tt/1vQoYF4
No comments:
Post a Comment