Pages

Monday, March 23, 2015

5 cara Lee Kuan Yew sulap kemiskinan Singapura jadi negara maju

Kisah hidup Lee Kuan Yew dipenuhi oleh usaha keras mengatasi hal-hal nyaris mustahil. Bapak bangsa Singapura yang belajar ilmu hukum di Inggris ini tidak menyangka impiannya memajukan kota perdagangan itu membuatnya jadi salah satu politikus paling sukses menggenjot perekonomian sepanjang abad 20.


Selepas Perang Dunia ke-2, impian warga Singapura tidak muluk-muluk. Mereka ingin otonomi lebih besar dari Inggris. Selanjutnya, kota dengan luas hanya separuh DKI Jakarta itu hendak bergabung dengan Federasi Malaya yang lebih dulu memperoleh kemerdekaan pada 1947.


Kota yang pada era kerajaan nusantara terkenal disebut Temasek itu jauh dari makmur pada saat memperoleh kemerdekaan pada 1959. Lee yang belum lama pulang dari Inggris menang pemilu, tapi tidak ada kegembiraan. Dia sadar tugas mahaberat menanti.


Kehancuran infrastruktur masih membayangi akibat ulah tentara pendudukan Jepang selama 1942-1945. Ekspatriat menyebut Singapura saat itu sebagai 'limbah kemelaratan'.


Nyaris 70 persen penduduk miskin, warga peranakan Tionghoa, India, dan etnis lain tidur berjubel di pemukiman kumuh, malaria menjangkit di mana-mana. Belum lagi kondisi Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam dan akses air bersih. Bagi Lee selaku Sekjen Partai Aksi Rakyat (PAP) yang menguasai parlemen, menginduk pada Malaysia adalah jalan satu-satunya.


"Pilihan untuk bergabung dengan Malaysia yang masih bernaung di bawah Persemakmuran Inggris paling masuk akal saat itu," kata Lee Kuan Yew, sang perdana menteri pertama Singapura saat merdeka pada 1959, dikutip dari Guardian.


Hilangnya markas Angkatan Laut Inggris juga merontokkan ekonomi Singapura selama 1960-an. Selama ini, kebutuhan militer Negeri Ratu Elizabeth membuka banyak lapangan kerja di Negeri Singa.


Nahas, sepanjang awal 1960 etnis Melayu banyak menyerang penduduk Tionghoa. Warga Singapura merasa terdiskriminasi, sehingga akhirnya Lee dan partainya memberanikan diri berpisah dari Federasi Malaya pada 9 Agustus 1965.


'Kemerdekaan' mendadak itu membuatnya frustrasi. Lee tidak keluar kamar selama empat hari memikirkan nasib warga Singapura.


"Saat kami merdeka, Singapura merupakan kota yang cukup bobrok. Banyak kerusakan sehabis perang, namun kami mulai membangun kembali," cerita Lee Kuan Yew setelah merenung beberapa lama, seperti dilansir Channel News Asia.


Tak mau berlarat-larat pada kesedihan, dia lalu merumuskan lima kebijakan yang sangat terkenal. Hasilnya Singapura di abad 21 adalah negara maju, pendapatan per kapita tertinggi di Asia, disokong kualitas pendidikan dan kesehatan tinggi, serta angka kriminalitas terendah sejagat.


Apa saja jurus ajaib Lee Kuan Yew selama 30 tahun memerintah, yang sukses mengubah nasib Singapura sebagai negara terancam miskin? Berikut rangkumannya:


Read More http://ift.tt/1ImL57R

No comments:

Post a Comment